Bandung, bertanya.id - Guru tidak pernah benar-benar selesai menjalankan perannya ketika bel sekolah berbunyi. Di mata murid, seorang guru tetaplah guru, kapan pun dan di mana pun. Gagasan itu mengemuka dalam seminar nasional mengenang Syahid Muthahhari dan memperingati Hari Guru Nasional yang digelar di Auditorium Al Mustafa STAI Sadra, Bandung.
Ketua Yayasan Muthahhari Bandung, K.H. Miftah Fauzi Rakhmat, menggambarkan guru layaknya tukang kebun yang merawat tanaman dengan warna dan karakter berbeda. Setiap murid memiliki watak, kemampuan, dan tingkat pemahaman yang tidak sama. Karena itu, pendidikan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan seragam.
Menurut Miftah, tugas guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan, melainkan juga menanamkan nilai dan membina jiwa peserta didik. Ia mengutip pandangan tentang Syahid Muthahhari yang disebut sebagai “buah kehidupan” gurunya, sebuah perumpamaan yang menunjukkan bahwa seorang pendidik menempatkan sebagian dirinya pada murid yang dibimbingnya.
Karena itulah, kata dia, kondisi batin guru menjadi penting. Guru yang sedang menghadapi persoalan sebaiknya mampu menenangkan diri sebelum masuk kelas. Energi negatif yang terbawa saat mengajar dikhawatirkan memengaruhi perkembangan psikologis dan moral murid.
Pandangan serupa disampaikan para pembicara lain. Mereka menempatkan Syahid Muthahhari dan Ki Hajar Dewantara sebagai dua tokoh pendidikan yang sama-sama berupaya membangun kesadaran masyarakat melalui ilmu pengetahuan. Pendidikan dipandang bukan sekadar sarana transfer ilmu, tetapi juga jalan membebaskan masyarakat dari kebodohan.
Profesor Hossein Mottaghi menilai rendahnya kesadaran masyarakat dapat membuka ruang bagi tumbuhnya kekuasaan yang otoriter. Dalam konteks itu, guru memiliki peran strategis untuk membangun daya kritis dan kesadaran sosial generasi muda.
Seminar yang diikuti dosen dan mahasiswa tersebut ditutup dengan pemberian penghargaan kepada sejumlah dosen berprestasi sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka dalam mengembangkan pendidikan tinggi dan mendidik mahasiswa.
Bagi para pembicara, peringatan Hari Guru bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum itu menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah bangsa pada akhirnya bertumpu pada kualitas guru yang membentuk karakter dan kesadaran generasi penerusnya.(*)
Red.