zmedia

Dari "Jun" ke UMKM Ciwastra, Sahrul Gunawan Menemukan Panggung Baru di Tengah Pelaku Usaha Kecil


Bandung, bertanya.id - Tak semua orang yang pernah berada di puncak popularitas mampu tetap dekat dengan masyarakat. Sahrul Gunawan menjadi salah satu yang memilih jalan itu. Aktor yang namanya melejit lewat sinetron Jin dan Jun dan Pernikahan Dini itu kembali menarik perhatian, bukan karena syuting atau panggung hiburan, melainkan saat mengunjungi sentra UMKM di Jalan Ciwastra No. 137, Kecamatan Margacinta, Kota Bandung.

Kehadirannya langsung mengundang perhatian. Beberapa pengunjung menghentikan aktivitasnya, sementara para pedagang menyambut hangat sosok yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu bintang sinetron Indonesia. Tak sedikit yang mengabadikan momen itu melalui telepon genggam. Sebagian lainnya memilih berbincang santai, mengenang masa ketika wajah Sahrul hampir setiap hari hadir di layar televisi. Bandung, Selasa 4 Agustus 2026.
Di lokasi tersebut, Sahrul mencicipi berbagai kuliner hasil karya pelaku usaha lokal. Mulai dari Ayam Goreng Mas Angga dengan menu andalannya, menikmati suasana hangat di Mamiri Caffe, mencicipi racikan Mie Tektek yang dimasak langsung di atas wajan dengan aroma khas bumbu rempah, hingga menikmati Sate Maranggi Angkat yang dikenal dengan cita rasa gurih dan manis khas Sunda.

Bagi Sahrul, kunjungan itu bukan sekadar wisata kuliner. Di setiap meja, ia menyempatkan diri berdialog dengan para pelaku UMKM. Mereka bercerita tentang perjuangan mempertahankan usaha di tengah persaingan yang semakin ketat, pentingnya promosi digital, hingga harapan agar semakin banyak masyarakat memilih produk lokal.
Sahrul bukan sosok baru dalam kehidupan publik. Setelah puluhan tahun berkarier sebagai aktor, penyanyi, presenter, dan model, ia memutuskan menapaki jalur politik. Kepercayaan masyarakat mengantarkannya menjadi Wakil Bupati Bandung periode 2021–2025. Perjalanan itu menjadikannya salah satu sedikit figur publik yang mampu bertahan di dua dunia berbeda, yakni industri hiburan dan pemerintahan.

Meski demikian, citra yang melekat pada dirinya tak banyak berubah. Ia tetap dikenal sebagai pribadi yang santun dan mudah berbaur. Julukan "Jun" masih sering terdengar dari masyarakat yang menyapanya. Sahrul membalas sapaan itu dengan senyum, melayani permintaan swafoto, dan berbincang tanpa menjaga jarak.

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa UMKM bukan hanya soal transaksi ekonomi. Di balik setiap warung dan kedai, ada cerita tentang keluarga yang menggantungkan hidup, pekerja yang mencari nafkah, serta mimpi para pelaku usaha untuk terus berkembang.

Di tengah gempuran restoran waralaba dan tren kuliner yang silih berganti, keberadaan UMKM tetap menjadi denyut ekonomi masyarakat. Kehadiran figur publik seperti Sahrul Gunawan memberi nilai lebih, bukan hanya melalui perhatian yang dibawanya, tetapi juga karena mampu memperkenalkan usaha-usaha kecil kepada khalayak yang lebih luas.

Bagi warga yang hadir sore itu, pertemuan dengan Sahrul bukan sekadar bertemu mantan bintang sinetron. Mereka melihat seorang figur yang tetap membumi, menikmati hidangan sederhana, berbincang dengan pedagang, dan menunjukkan bahwa dukungan terhadap UMKM bisa dimulai dari hal paling sederhana: datang, mencicipi, lalu mengajak masyarakat untuk ikut membeli produk lokal.Jika ini akan diterbitkan di media online, naskah ini sudah cukup bergaya Tempo dengan pendekatan feature dan human interest.(Hyt)



Red.