Bandung, bertanya.id – Di balik gang sempit di kawasan Babakan Surabaya, Kecamatan Kiaracondong, berdiri sebuah sekolah yang jauh dari kemewahan. Hanya ada 16 murid dengan beragam kebutuhan khusus. Namun, dari ruang-ruang belajar sederhana itu, lahir keteguhan para guru yang memilih mengabdi di tengah keterbatasan.
Potret itu disaksikan langsung Wakil Wali Kota Bandung, Kang Erwin, saat mengunjungi SLB Karya Bhakti.
Sekolah tersebut mendidik anak-anak dengan autisme, down syndrome, tunagrahita, tunadaksa, hingga disabilitas ganda. Sebagian siswa membutuhkan pendampingan secara individual sehingga seorang guru harus fokus mendampingi satu anak agar proses belajar berjalan optimal.
Keterbatasan fasilitas dan belum jelasnya status lahan menjadi tantangan yang terus membayangi keberlangsungan sekolah. Namun, kondisi itu tidak menyurutkan semangat para pendidik.
Kang Erwin mengaku terenyuh setelah mendengar kisah Deni Gusmawan yang telah mengabdikan diri selama 15 tahun di sekolah tersebut. Meski penghasilan yang diterima jauh dari memadai, Deni tetap bertahan demi memastikan anak-anak berkebutuhan khusus memperoleh hak atas pendidikan.
"Ini menjadi pengingat bagi kami di Pemerintah Kota Bandung bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama dalam memastikan pendidikan inklusif yang layak bagi anak-anak berkebutuhan khusus," ujar Erwin.
Menurutnya, kunjungan itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan awal untuk mencari solusi bersama. Pemerintah Kota Bandung diharapkan dapat mendorong perhatian lebih besar terhadap SLB Karya Bhakti dan sekolah-sekolah sejenis agar terus berkembang serta mampu memberikan layanan pendidikan yang setara bagi seluruh anak. (*)
Red.