zmedia

Rutilahu Bukan Sekadar Bangun Rumah, Tapi Mengembalikan Martabat Warga


Bandung, bertanya.id — Di balik setiap rumah yang berdiri, ada kisah tentang perjuangan sebuah keluarga. Dari ruang sempit yang bocor saat hujan hingga tembok rapuh yang mengancam keselamatan, rumah menjadi cermin kehidupan penghuninya. Karena itu, Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dinilai bukan sekadar proyek pembangunan fisik.

Pandangan itu disampaikan Anggota DPRD Kota Bandung, M. Syahlevi Erwin Apandi, saat meninjau realisasi Program Rutilahu di Kelurahan Babakan Sari, Minggu, 26 Juli 2026.

Menurut Syahlevi, menghadirkan hunian yang layak berarti mengembalikan rasa aman, menjaga martabat keluarga, sekaligus membuka harapan baru bagi masa depan mereka.

"Setiap rumah menyimpan cerita, harapan, dan perjuangan sebuah keluarga. Karena itu, menghadirkan hunian yang layak bukan sekadar membangun dinding dan atap, melainkan mengembalikan rasa aman, menjaga martabat, serta membuka harapan akan masa depan yang lebih baik," katanya.
Ia mengatakan, Program Rutilahu yang telah terealisasi merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Semangat gotong royong, menurutnya, menjadi modal penting agar bantuan serupa dapat menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan.

Syahlevi berharap rumah yang telah diperbaiki tidak hanya memberikan perlindungan secara fisik, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi keluarga penerima manfaat.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah, masyarakat, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program tersebut.

"Bagi kami, membangun rumah adalah membangun harapan. Sedangkan merawat harapan merupakan tanggung jawab bersama," ujarnya.

Program Rutilahu menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Bandung untuk meningkatkan kualitas hunian masyarakat berpenghasilan rendah sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dalam pembangunan di tingkat kewilayahan.(*)


Red.