Bandung, bertanya.id - Aktivitas kuliner usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan Ciwastra, Kota Bandung, masih menjadi bagian dari denyut ekonomi warga. Di tengah persaingan usaha makanan yang semakin beragam, pelaku usaha kecil tetap bertahan dengan mengandalkan kedekatan dengan pelanggan serta konsistensi rasa. Bandung, Kamis, 25 Februari 2026.
Beberapa titik kuliner yang dikenal masyarakat antara lain Pojok Rasa, Ayam Goreng Sari Manis Margacinta, serta pedagang Mie tektek yang beroperasi pada malam hari. Ketiganya menjadi pilihan santap bagi warga sekitar maupun pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut. Sebagian besar usaha ini berlokasi di Jl. Ciwastra No. 137, Bandung, titik yang mudah dijangkau dari sejumlah kompleks perumahan dan pusat aktivitas warga.
Elvin, pengelola Pojok Rasa, mengatakan usaha kuliner rumahan yang dijalankannya menyasar pelanggan lingkungan sekitar dengan menu sederhana dan harga terjangkau.
“Sebagian besar pelanggan datang dari warga sekitar. Kami berusaha menjaga rasa dan pelayanan supaya mereka tetap kembali,” kata Elvin.
Sementara itu, Tantri, pemilik Ayam Goreng Sari Manis Margacinta, menuturkan usaha kecil seperti miliknya bertahan dari kepercayaan pelanggan yang sudah terbentuk. Ia mengandalkan kualitas bumbu dan pengolahan sebagai daya tarik utama.
“Yang penting konsisten. Kalau rasa terjaga, pelanggan biasanya datang lagi. Itu yang membuat usaha kecil seperti kami bisa berjalan,” ujar Tantri.
Pada malam hari, suasana kawasan semakin hidup dengan kehadiran pedagang kaki lima, salah satunya penjual mie tektek. Trisno menyebut waktu malam menjadi jam paling ramai pembeli.
“Biasanya pelanggan datang setelah aktivitas kerja atau sekadar cari makan hangat. Mie tektek masih diminati karena praktis dan terjangkau,” kata Trisno.
Secara wilayah, Ciwastra berada di bagian selatan Kota Bandung dan masuk dalam kawasan administrasi yang mencakup Kecamatan Buahbatu, antara lain di Kelurahan Margasari dan Cijawura. Kawasan ini berkembang sebagai wilayah permukiman dengan sejumlah kompleks perumahan serta akses menuju pusat pendidikan, fasilitas kesehatan, hingga pusat belanja. Pertumbuhan permukiman di Ciwastra ikut mendorong mobilitas harian warga. Penelitian lalu lintas mencatat pergerakan kendaraan dari kawasan perumahan di sepanjang Jalan Ciwastra dapat mencapai sekitar 951 satuan mobil penumpang per jam, yang berkontribusi pada kepadatan di beberapa titik.
Di sisi lain, kawasan ini juga menghadapi tantangan lingkungan dan infrastruktur. Posisi Ciwastra yang berada di titik relatif rendah—sekitar 689 meter di atas permukaan laut—menyebabkan air hujan mudah menggenang sehingga banjir kerap terjadi di beberapa ruas jalan. Pemerintah kota juga mencatat masih adanya persoalan sanitasi, seperti keterbatasan fasilitas septic tank di sebagian permukiman, yang perlu dibenahi melalui program sosialisasi dan pembangunan fasilitas komunal.
Meski demikian, aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan, termasuk melalui UMKM kuliner yang mengandalkan pelanggan lingkungan sekitar. Interaksi jual beli sejak sore hingga malam hari tidak hanya menciptakan perputaran ekonomi, tetapi juga membangun ruang sosial antarwarga.
Keberadaan usaha kecil tersebut menunjukkan peran ekonomi berbasis komunitas dalam menopang kehidupan perkotaan. Bagi warga, kuliner lingkungan di Jl. Ciwastra No. 137, Bandung bukan sekadar pilihan makan, melainkan bagian dari dinamika keseharian yang terus bergerak di tengah perubahan wilayah.(Hyt)