zmedia

Yayasan Muthahhari 37 Tahun: Prestasi yang Tak Selalu Diukur Angka


Bandung, bertanya.id -  Yayasan Muthahhari memasuki usia ke-37 dengan perjalanan yang tak selalu ditandai gegap gempita seremoni. Di bawah naungannya—SMA Plus Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera Muthahhari, Sekolah Cerdas Muthahhari, SMP Al-Mukaromah, Madrasah Assajjadiyah, Klinik AdhiGraha, hingga Yayasan Jalan Rahmat—prestasi dimaknai sebagai kerja panjang yang tumbuh perlahan, namun berakar kuat. Bandung, 10 Januari 2026.

Di tengah arus pendidikan yang kerap menakar keberhasilan lewat angka, peringkat, dan statistik instan, Yayasan Muthahhari memilih jalan berbeda. Prestasi diposisikan sebagai proses berkelanjutan: pengakuan yang lahir dari konsistensi nilai, ketekunan mendidik, dan relevansi yang mampu bertahan di tingkat nasional hingga internasional.

Milad ke-37 ini mengusung tema “Sucikan Jiwa, Serapkan Asma”, sebuah penegasan filosofis tentang arah pendidikan yang dijaga sejak awal berdiri. Pendidikan, bagi Muthahhari, bukan sekadar produksi capaian akademik, melainkan ikhtiar membentuk manusia seutuhnya—berakal jernih, berjiwa bersih, dan berkesadaran moral.
Di level nasional, Yayasan Muthahhari dikenal melalui pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan prestasi akademik, karakter, dan spiritualitas. Sekolah dipandang bukan hanya ruang transfer ilmu, tetapi medan pembentukan etika dan tanggung jawab sosial. Jejak para alumninya tersebar di berbagai sektor strategis, dari dunia pendidikan dan kebudayaan hingga pelayanan publik.

Kiprah tersebut diperkuat melalui partisipasi aktif dalam forum-forum pendidikan, kompetisi akademik, serta pengembangan praktik pembelajaran yang menekankan nalar kritis dan adab. Bagi Muthahhari, kemenangan bukan tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari proses mendidik yang dijalankan dengan kesungguhan.

Di tingkat global, orientasi internasional Yayasan Muthahhari tidak selalu hadir dalam bingkai kerja sama formal yang mencolok. Namun keterbukaan terhadap wacana pendidikan dunia dan keberhasilan alumni melanjutkan studi serta berkiprah di luar negeri menjadi cermin nilai-nilai universal yang ditanamkan—kemanusiaan, kejujuran, dan tanggung jawab.

Ketua Yayasan Muthahhari, Iqbal Fauzi Rakhmat, menegaskan bahwa capaian tersebut bukan hasil kebetulan.
“Pendidikan tidak boleh direduksi menjadi sekadar alat pasar kerja. Ia harus membentuk manusia yang berpikir dan bertindak dengan kesadaran,” ujarnya.

Bagi Yayasan Muthahhari, Milad ke-37 bukan sekadar penanda usia, melainkan ruang refleksi tentang makna prestasi itu sendiri—bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai buah dari kesabaran mendidik, kejernihan akal, dan nilai yang ditanam untuk melampaui zaman. (Hyt)