Bandung, bertanya.id - Malam belum sepenuhnya larut ketika aroma mi tektek mengepul di Jalan Ciwastra No. 137, Bandung. Di sela denting wajan dan asap yang menari pelan, Pak Bambang, seorang pegawai perbankan internasional, duduk sederhana menikmati seporsi mi tektek hangat—menu rakyat yang justru kerap menjadi ruang lahirnya refleksi besar tentang negeri. Bandung, Sabtu 3 Januari 2026
“Kalau harapan saya di 2026, sederhana saja,” ujar Bambang sambil menyendok mi. “Mudah-mudahan ekonomi Indonesia benar-benar membaik. Bukan cuma di angka, tapi terasa di kantong masyarakat.”
Menurutnya, tanda-tanda pemulihan memang mulai terlihat. Aktivitas ekonomi bergerak, pusat-pusat usaha kembali ramai, dan optimisme perlahan tumbuh. Namun, ia menilai kondisi tersebut masih terasa “biasa-biasa saja”, terutama bila dilihat dari kemampuan daya beli masyarakat menengah ke bawah.
“Jujur saja, kasihan,” katanya lirih. “Daya beli mereka masih berat. Harga kebutuhan pokok naik, sementara penghasilan banyak yang belum ikut menyesuaikan.”
Di tengah obrolan ringan itu, Bambang menyinggung harapan yang lebih luas—Indonesia yang lebih makmur dan adil. Ia teringat pesan orang tua dulu, bahwa kepemimpinan nasional punya peran besar dalam menentukan arah kesejahteraan rakyat.
“Orang tua saya pernah bilang, kalau negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang satu hati dengan rakyat, insyaallah Indonesia bisa jauh lebih baik,” tuturnya. “Harapan itu masih saya simpan sampai sekarang.”
Malam di Ciwastra pun terus berjalan. Mi tektek habis, wajan kembali berdenting melayani pelanggan lain. Namun, harapan Bambang—seperti banyak warga lainnya—masih tertinggal di bangku trotoar: harapan agar tahun 2026 benar-benar menjadi tahun di mana ekonomi tak hanya tumbuh, tetapi juga menguatkan mereka yang paling bawah.
Di Bandung, dari seporsi mi tektek, suara rakyat kembali berbisik tentang masa depan Indonesia.(Hyt)
Red.