zmedia

Potret Miris Pendidikan Hari Ini: Saat Sopan Santun Mulai Kehilangan Tempat



Jambi, bertanya.id - Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh peristiwa yang seharusnya tak pernah terjadi di lingkungan sekolah. Kegiatan belajar-mengajar di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, Selasa (13/1), berubah mencekam dan menyisakan keprihatinan mendalam. Seorang guru, Agus Saputra, justru menjadi sasaran pengeroyokan murid-muridnya sendiri. Kejadian ini menggambarkan potret buram relasi guru dan siswa yang kian hari terasa semakin rapuh.

Sekolah semestinya menjadi ruang aman, tempat nilai ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter berjalan beriringan. Namun dalam kasus ini, ruang kelas berubah menjadi arena pelampiasan emosi. Rasa hormat terhadap guru—yang dahulu dijunjung tinggi sebagai fondasi pendidikan—kini seolah memudar. Guru tidak lagi dipandang sebagai figur pendidik dan pembimbing, melainkan kerap berhadapan dengan sikap menantang dari peserta didik.

Peristiwa ini juga menegaskan pentingnya menjaga sopan santun dalam dunia pendidikan. Etika berbicara, sikap menghargai, dan kemampuan mengendalikan emosi seharusnya menjadi bagian dari proses belajar, bukan sekadar materi tambahan. Ketika nilai-nilai tersebut diabaikan, konflik kecil pun mudah membesar dan berujung pada kekerasan, baik secara verbal maupun fisik.

Lebih jauh, kasus ini menjadi alarm bagi semua pihak. Pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan capaian akademik, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan budi pekerti. Ketika siswa kehilangan rasa hormat, dan guru kehilangan wibawa serta ruang aman untuk mendidik, maka tujuan pendidikan menjadi kabur.

Sekolah idealnya menjadi tempat tumbuhnya generasi yang berilmu sekaligus berakhlak. Namun jika sopan santun terus tergerus dan emosi lebih dikedepankan daripada dialog, ruang pendidikan berisiko berubah menjadi panggung pertarungan emosi. Sebuah ironi yang patut menjadi bahan renungan bersama—bagi siswa, guru, orang tua, dan para pengambil kebijakan—agar dunia pendidikan kembali ke jati dirinya sebagai tempat mendidik manusia seutuhnya.(Hyt).