zmedia

Lansia Bukan Sisa Usia, tapi Penjaga Arah Kota


Cimahi, bertanya.id - Semangat belajar tak mengenal batas umur terasa hangat di Techno Park, Jalan Baros Utama No.78, Leuwigajah, Cimahi Selatan, Rabu (28/1/2026). Dalam kegiatan Sekolah Lansia Budi Luhur, para lanjut usia kembali membuktikan bahwa usia senja bukan akhir peran, melainkan babak baru untuk terus bertumbuh dan memberi makna.

Ketua DPRD Kota Cimahi, Wahyu Widyatmoko, S.H., menegaskan bahwa lansia memiliki posisi strategis sebagai sumber pengalaman, teladan moral, sekaligus penjaga nilai bagi generasi penerus. Menurutnya, perjalanan panjang hidup para lansia merupakan modal sosial yang tak ternilai harganya.

“Bapak dan ibu adalah orang-orang hebat. Lebih dulu memiliki pengalaman daripada kami yang masih relatif muda. Tanpa kebijaksanaan bapak dan ibu sekalian, kami bukan apa-apa,” ujar Wahyu.

Ia menekankan, lansia harus dipandang sebagai aset strategis Pemerintah Kota Cimahi. Bukan sekadar kelompok usia lanjut, tetapi penjaga nilai dan kearifan yang perlu dirawat serta diberdayakan.

“Lansia wajib hukumnya diakui dan diakuisisi sebagai aset Pemerintah Kota Cimahi,” tegasnya.

Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, dalam kesempatan yang sama mengingatkan bahwa pendidikan adalah investasi sepanjang hayat. Menurutnya, akal dan ilmu pengetahuan merupakan anugerah utama dari Allah SWT yang membedakan manusia sebagai makhluk mulia.

“Pendidikan itu adalah lifelong learning. Seumur hidup, bahkan sampai liang lahat, kita harus terus mencari ilmu,” ujarnya.

Adhitia membagikan kisah inspiratif dari Nepal tentang Durga Kami, perempuan berusia 68 tahun yang kembali bersekolah bersama anak-anak usia 10 hingga 14 tahun dan berhasil lulus dengan hasil sangat baik. Kisah itu, katanya, menjadi bukti bahwa usia hanyalah angka, sementara semangat adalah kekuatan sejati.

Dari sisi akademik, Ketua STIKes Budi Luhur Cimahi, Sri Wahyuni, S.Pd., M.Kes., Ph.D., menegaskan komitmen kampusnya dalam membangun lansia yang sehat, mandiri, produktif, dan bahagia melalui Sekolah Lansia. Ia menolak anggapan bahwa lansia adalah kelompok pasif.

“Lansia harus sehat, produktif, mandiri, dan bahagia. Mereka membutuhkan ruang untuk terus berkegiatan,” katanya.

Program Sekolah Lansia Budi Luhur di Cimahi kini telah memasuki Standar 1 untuk angkatan keempat, sementara di Salatiga telah mencapai Standar 3. Di Cimahi sendiri, DP3A turut menginisiasi Sekolah Lansia di sejumlah wilayah seperti Pasir Kaliki dan Cimahi Tengah, dengan total peserta sekitar 270 orang.

Melalui kolaborasi pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat, Sekolah Lansia diharapkan terus tumbuh sebagai gerakan bersama. Bukan hanya menjaga kesehatan fisik dan mental para peserta, tetapi juga merawat nilai, pengalaman, dan kebijaksanaan sebagai fondasi masa depan Kota Cimahi.(*)


Red.