zmedia

Harga Melonjak, Daya Beli Tertekan


Bandung, bertanya.id - Kenaikan harga kebutuhan pokok kembali menekan daya beli masyarakat. Dalam beberapa pekan terakhir, harga beras, minyak goreng, dan sejumlah bahan pangan lain merangkak naik di berbagai pasar tradisional.

Di Pasar Kosambi, misalnya, harga beras medium naik dibanding awal bulan. Pedagang mengaku kenaikan terjadi sejak tingkat distributor. “Dari sananya sudah naik. Kami hanya menyesuaikan,” ujar seorang pedagang, Rabu lalu.

Kondisi serupa terjadi pada komoditas lain. Minyak goreng dan telur ayam ikut terdorong. Sejumlah pedagang menyebut pasokan tidak terganggu, namun biaya distribusi dan harga bahan baku disebut memicu penyesuaian harga.

Bagi konsumen, kenaikan itu terasa signifikan. Siti, 38 tahun, ibu rumah tangga, mengatakan kini harus mengurangi jumlah belanja mingguan. “Biasanya beli lima kilogram beras, sekarang tiga dulu. Lauk juga disesuaikan,” katanya.

Ekonom menilai tekanan harga dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Nilai tukar rupiah, biaya logistik, serta ketergantungan pada impor bahan baku menjadi variabel yang memengaruhi harga di tingkat konsumen.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi bahan pangan masih menjadi penyumbang utama kenaikan indeks harga konsumen dalam beberapa periode terakhir. Pemerintah menyatakan akan menjaga stabilitas pasokan melalui operasi pasar dan penguatan distribusi.

Namun bagi warga, persoalannya sederhana: ketika harga naik lebih cepat dari pendapatan, ruang bernapas makin sempit. Stabilitas harga, bagi sebagian orang, bukan sekadar angka statistik, melainkan penentu keberlanjutan hidup sehari-hari.(*)

Red