zmedia

Monolog beton : Saat ruang ekspresi menjadi panggung kehidupan suram


Bandung, bertanya.id - Di tengah deru kendaraan dan lalu lalang manusia, ruang publik kerap hanya dipandang sebagai tempat singgah. Orang datang dan pergi tanpa benar-benar memberi makna pada ruang yang mereka pijak. Di tengah situasi itu, pertunjukan monolog Beton hadir sebagai upaya menghadirkan kembali ruang publik sebagai ruang hidup bersama.

Monolog karya dan sutradara Asep Budiman ini akan dipentaskan pada 17 Mei 2026 pukul 20.00 WIB di ISBI Bandung. Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari program Indonesiana LPDP Kementerian Kebudayaan yang mendorong pendayagunaan ruang publik melalui seni pertunjukan.

Melalui aktor Hendra Mbot, Beton menghadirkan refleksi tentang manusia yang hidup di tengah kerasnya ruang kota. Beton yang dingin dan kaku dijadikan metafora tentang tekanan hidup, batas-batas sosial, hingga daya tahan manusia menghadapi zaman.
Pertunjukan ini tidak hanya menawarkan cerita, melainkan pengalaman ruang dan suara. Penonton diajak menyelami kesunyian di balik keramaian kota, mendengar gema luka yang kerap tersembunyi, sekaligus menemukan harapan yang tetap tumbuh di tengah himpitan realitas.

“Monolog Beton adalah ajakan untuk tidak menyerah. Di balik kerasnya dunia, selalu ada celah kecil tempat harapan tumbuh,” demikian penggalan pesan yang diusung pertunjukan tersebut.

Lapang parkir yang biasanya dipenuhi kendaraan akan diubah menjadi ruang artistik yang intim. Di tempat itu, kata-kata dipantulkan melalui tubuh, suara, cahaya, dan ruang. Beton bukan lagi sekadar material bangunan, melainkan simbol kehidupan urban yang menyimpan banyak cerita.
Selain menghadirkan pertunjukan teater, program ini juga menjadi upaya memperluas akses masyarakat terhadap seni. Ruang publik diposisikan bukan hanya sebagai lokasi aktivitas ekonomi dan lalu lintas, tetapi juga tempat dialog sosial dan ekspresi budaya.

Monolog Beton didukung sejumlah pekerja seni, di antaranya penata musik Aiman Surya, penata suara Radi Tajul Arifin, penata lampu Moch Zam Zam Mubarok, videomaker C. Sukma dan Bojeng Adiryal Haq, serta penata artistik Ade II Syqrifudin.

Pertunjukan ini terbuka untuk umum. Di tengah kota yang terus bergerak, Beton mencoba menghadirkan jeda—sebuah ruang untuk berhenti sejenak, mendengar diri sendiri, dan melihat kembali makna ruang publik sebagai bagian dari pengalaman hidup bersama.(Hyt)