Bandung, bertanya.id — Di balik riuhnya malam Jalan Ciwastra, ada kisah unik yang mengalir dari suara ketukan wajan “tek-tek” hingga ke lembar tulisan. Dialah Mang Hidayat, sosok yang menjalani dua dunia sekaligus: pagi sebagai jurnalis, malam sebagai penjual mie tektek.
Lapak sederhana bertajuk Mie Tektek Djuhri ini mulai beroperasi sejak pukul 17.00 WIB hingga 23.30 WIB, menjadi tempat persinggahan warga yang mencari cita rasa hangat di tengah dinginnya malam Bandung. Berlokasi di Jl. Ciwastra No. 137, gerobak Mang Hidayat tak pernah sepi dari pelanggan setia.
“Ini bukan sekadar jualan, tapi juga ruang cerita,” ujar Mang Hidayat sambil mengaduk mie di atas wajan. Baginya, memasak adalah cara lain menyampaikan rasa—berbeda medium, tapi tetap bermakna.
Menu yang ditawarkan pun sederhana namun menggoda selera. Mulai dari Mie Tektek Goreng, Mie Tektek Kuah, hingga Nasi Goreng dan Nasi Goreng Mawut yang menjadi favorit pelanggan. Racikan bumbu khas dengan aroma bawang dan rempah yang kuat menjadikan setiap porsi terasa istimewa.
Menariknya, pengalaman sebagai jurnalis membuat Mang Hidayat piawai membangun komunikasi dengan pelanggan. Obrolan ringan hingga diskusi hangat kerap mewarnai suasana, menjadikan gerobaknya lebih dari sekadar tempat makan—melainkan ruang interaksi.
Kisah “Mie Tektek Djuhri” menjadi bukti bahwa passion bisa berjalan beriringan dengan profesi. Dari menulis berita di siang hari hingga “menulis rasa” di malam hari, Mang Hidayat menghadirkan cerita yang tak hanya dibaca, tetapi juga bisa dinikmati.(Hyt)