Teheran, bertanya.id – Langit ibu kota Iran merah oleh kilatan ledakan. Dentuman bom bergema di jalanan yang semula dipenuhi pedagang dan pelajar, kini berganti menjadi kekosongan penuh kecemasan. Serangan udara dan rudal yang dilancarkan oleh koalisi Amerika Serikat dan Israel telah menghantam berbagai wilayah Iran sejak akhir Februari, termasuk fasilitas militer dan pusat komando penting di Teheran dan kota besar lainnya. Teheran, 7 Maret 2026
Kantor berita resmi Iran melaporkan setidaknya lebih dari 1.230 orang tewas, termasuk warga sipil, akibat rentetan serangan itu — angka yang terus bertambah setiap harinya. Rumah sakit di ibu kota dipenuhi oleh korban luka dan keluarga yang putus asa mencari kabar tentang kerabat mereka.
“Tak ada satu hari pun yang terasa normal,” ujar Farhad Nazari, seorang guru sekolah menengah yang kini mengungsi bersama keluarganya di luar Teheran. “Setiap ledakan membawa kita lebih dekat ke kehilangan yang tak tergantikan — rumah, teman, bahkan masa depan anak‑anak kami.”
Pemerintah Iran, di bawah tekanan konflik hebat ini, telah menolak gagasan gencatan senjata dan menyatakan siap menghadapi kemungkinan intervensi darat oleh pasukan AS. Pernyataan resmi Teheran menyatakan bahwa mereka akan terus mempertahankan kedaulatan dan menolak “tekanan ketika diplomasi gagal”.
Di tengah kekacauan itu, komandan militer Iran yang diwawancarai oleh media lokal mengatakan bahwa mereka kini lebih mengandalkan strategi taktis — menggunakan drone dan peluncuran rudal ke target militer sekutu AS dan Israel di seluruh kawasan. “Kami mungkin kehilangan kekuatan tertentu, tapi semangat kami tak akan padam,” tegas sang komandan.
Ekonomi Iran juga semakin tertekan. Harga kebutuhan pokok melonjak, tenaga listrik sering padam, dan jutaan warga terpaksa mengungsi ke wilayah yang relatif lebih aman. “Jika perang ini terus berlangsung, efeknya akan bertahan bertahun‑tahun,” kata Dr. Laleh Sadeghi, seorang analis ekonomi regional.
Gambaran keseluruhan:
– Serangan AS‑Israel terus menghantam wilayah Iran, termasuk kota besar dan fasilitas militer.
– Korban tewas termasuk warga sipil sudah mencapai angka besar, dengan dampak sosial yang mendalam.
– Iran menolak gencatan senjata dan bersiap menghadapi intensifikasi konflik.
– Kehidupan sehari‑hari warga semakin sulit di tengah kekurangan kebutuhan dasar.
Dalam perang yang makin memanas ini, langit Iran bukan lagi sekadar ruang udara — ia adalah cermin ketangguhan dan penderitaan rakyat yang terjebak di antara dentuman bom dan harapan akan hari yang lebih damai.(*)
Red.