zmedia

Selat Hormuz Bergejolak, Indonesia Bersiap Hadapi Efek Domino Energi


Bandung, bertanya.id - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah konflik terbuka. Situasi semakin krusial ketika muncul ancaman penutupan , jalur laut vital yang menjadi nadi distribusi minyak dunia.

Selat sempit yang berada di antara Iran dan Oman itu selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global. Gangguan di kawasan tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak mentah dunia dan meningkatkan kecemasan pasar internasional.

Bagi Indonesia, dampaknya bukan sekadar isu geopolitik jauh di sana. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak global berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama pada sektor subsidi energi. Jika harga minyak bertahan tinggi, pemerintah menghadapi dilema: menambah beban subsidi atau menyesuaikan harga bahan bakar dalam negeri.

Menurut pakar ekonomi , “Kenaikan harga minyak global bisa berdampak signifikan pada inflasi dan nilai tukar rupiah. Pemerintah harus cepat mengambil langkah mitigasi agar tekanan ekonomi tidak menular ke masyarakat luas.”

Efek lanjutan bisa merembet pada inflasi. Biaya transportasi dan produksi berpotensi naik, yang pada akhirnya memengaruhi harga kebutuhan pokok. Nilai tukar rupiah juga rawan tertekan apabila gejolak global mendorong investor menarik dana ke aset yang dianggap lebih aman.

Meski demikian, pengamat menilai dampak jangka panjang sangat bergantung pada durasi konflik. Jika ketegangan mereda dalam waktu singkat, pasar biasanya akan kembali stabil. Namun bila eskalasi meluas dan jalur energi terganggu lebih lama, tekanan ekonomi global bisa semakin berat.

Pemerintah Indonesia disebut terus memantau perkembangan situasi dan menyiapkan langkah mitigasi, mulai dari menjaga cadangan energi hingga memperkuat koordinasi fiskal dan moneter.

Di tengah ketidakpastian global, satu hal menjadi jelas: percikan konflik di Timur Tengah dapat menjalar cepat hingga ke dapur-dapur rumah tangga Indonesia.(*)


Red.