Bandung, bertanya.id - Bulan Ramadan dimaknai bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum refleksi untuk memperkuat ketakwaan sekaligus membangun peradaban kota.
Pesan itu muncul dalam rangkaian Safari Ramadan 1447 Hijriah yang digelar di Masjid Agung Bandung, Selasa 24 Februari 2026.
Ketua MUI Kota Bandung, KH Miftah Faridl, dalam tausiahnya mengingatkan, Ramadan adalah bulan prestasi, bukan bulan pengenduran. Banyak peristiwa besar dalam sejarah Islam terjadi pada bulan Ramadan, mulai dari Perang Badar hingga pembebasan Kota Makkah. Bahkan, kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 juga bertepatan dengan bulan Ramadan.
“Ramadan bukan bulan melemah, tapi bulan penguatan. Penguatan iman, penguatan akhlak, dan penguatan perjuangan melawan hawa nafsu,” ujarnya.
Ia mengutip hadis Rasulullah SAW tentang orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.
Karena itu, puasa harus melahirkan kualitas takwa sebagaimana tujuan yang ditegaskan dalam Al-Qur’an, la’allakum tattaqun.
Tak hanya ibadah personal seperti salat malam dan membaca Alquran, Miftah juga menekankan pentingnya etika sosial di bulan Ramadan.
Ia mengingatkan agar umat membiasakan tabayun atau memeriksa kebenaran informasi, menjauhi pergunjingan, tidak mudah berprasangka buruk, serta memperbanyak sedekah.
“Ramadan adalah bulan memberi, bukan bulan meminta. Bulan memperbaiki diri dan memperbaiki hubungan sesama,” katanya.
Pesan tersebut selaras dengan refleksi yang disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan.
Farhan mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat nilai keagamaan di tengah dinamika Kota Bandung sebagai kota terbuka.
Menurutnya, sebagai kota metropolitan yang terbuka terhadap berbagai arus informasi dan pengaruh, Bandung membutuhkan fondasi moral yang kokoh.
“Agama adalah pedoman yang menjaga kita tetap berada dalam satu garis nilai. Ia yang memastikan kiblat kita satu, tujuan kita satu, dan nilai kebenaran tetap terjaga,” ujar Farhan.
Ia juga mengajak masyarakat Kota Bandung untuk memakmurkan masjid sebagai pusat peradaban.
Masjid Agung Bandung yang telah berdiri hampir dua abad, menurutnya, bukan sekadar tempat ibadah, tetapi ruang publik yang mempertemukan ulama, umara, dan umat.
Farhan menyebut, Kota Bandung memiliki banyak masjid besar yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan sosial, mulai dari Masjid Agung Alun-alun, Al-Ukhuwah, Mujahidin, Istiqomah, Salman, hingga Al-Jabbar.
Keberadaan masjid-masjid tersebut, berdampingan dengan rumah ibadah agama lain, menjadi penanda bahwa Bandung adalah kota yang religius sekaligus menjunjung keberagaman.
Safari Ramadan kali ini juga menjadi momen doa bersama bagi almarhumah ibunda Wali Kota Bandung yang wafat pada 17 Februari lalu.
Farhan menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan dan doa dari jajaran pemerintah, tokoh agama, serta masyarakat yang hadir.
Safari Ramadan 24 Februari 2026 merupakan edisi keenam yang diselenggarakan oleh Kecamatan Batununggal.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan buka puasa, menandai Ramadan sebagai ruang perenungan kolektif.
Ramadan 1447 Hijriah diharapkan menjadi titik refleksi bersama menuju Kota Bandung yang agamis, berprestasi, dan tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan. (ray)**
Sumber : Diskominfo Kota Bandung