Bandung, bertanya.id - Milad Imam Ali bin Abi Thalib AS bukan sekadar penanda kelahiran seorang manusia agung, melainkan panggilan ruhani bagi hati-hati yang rindu kepada cahaya. Ia adalah momentum untuk meneguhkan cinta kepada Ahlulbait Rasulullah SAW—cinta yang bersemi dari iman, dimurnikan oleh mujahadah, dan berbuah dalam akhlak yang menenteramkan semesta.
Imam Ali AS menapaki hidup sebagai seorang hamba yang hatinya senantiasa terjaga dalam zikrullah. Ilmu yang dimilikinya bukan sekadar pengetahuan, melainkan nur yang menuntun jiwa. Keberaniannya bukan ledakan nafsu, tetapi keteguhan ruh yang telah tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah SWT. Dalam dirinya, amal dan makrifat berjalan seiring, lahir dan batin menyatu dalam pengabdian.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.”
(QS. An-Nahl: 90)
Ayat ini hidup dalam laku spiritual Imam Ali AS. Keadilan baginya bukan sekadar hukum, melainkan keseimbangan batin—menempatkan segala sesuatu pada maqamnya. Ia adil karena jiwanya telah lurus di hadapan Allah. Bahkan kepada musuh, ia tetap menjaga adab, sebab hatinya tidak pernah keluar dari hadirat Ilahi.
Rasulullah SAW bersabda:
"Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya.”
(HR. At-Tirmidzi)
Ilmu Imam Ali AS adalah ilmu yang menyucikan. Ia tidak mengangkat derajat ego, tetapi meruntuhkan kesombongan. Ilmu itu melahirkan khusyuk, menghadirkan rasa takut dan cinta kepada Allah SWT, serta membimbing jiwa menuju makrifat.
Dalam hikmah-hikmahnya, Imam Ali AS mengajarkan rahasia perjalanan ruhani. Ia mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah satu keluarga besar—saudara dalam iman atau sesama dalam kemanusiaan. Ia menasihati agar takwa dijaga dalam sunyi, karena di sanalah kejujuran seorang hamba diuji. Dunia, katanya, hanyalah persinggahan; ia bukan tujuan, melainkan jembatan menuju keabadian.
Puncak akhlak, menurut Imam Ali AS, adalah memaafkan ketika mampu membalas. Di sanalah ego luluh, dan jiwa naik ke derajat ihsan. Memaafkan bukan kelemahan, melainkan kemenangan ruh atas nafsu.
Mencintai Imam Ali bin Abi Thalib AS berarti menapaki jalan tasawuf—jalan penyucian hati, penegakan keadilan batin, dan penjagaan persaudaraan lahir dan batin. Semoga Milad Imam Ali AS melembutkan hati kita, membersihkan jiwa dari keangkuhan, dan menuntun langkah kita menuju ridha Allah SWT. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.(*)
Red.