zmedia

Isra Mi’raj di Al-Muhajirin Garut: Ketika Ruh Menempuh Jalan Pulang


Garut, bertanya.id - Para sufi berkata, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya. Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah puncak pengenalan itu—saat seorang hamba dipanggil bukan karena kehebatannya, melainkan karena kemurnian cintanya.

Pada Sabtu, 17 Januari 2026, di Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Kampung Cijambu RT 01 RW 09, Desa Selaawi, Garut, perjalanan agung itu kembali dihamparkan. Sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai, Tabligh Akbar Isra Mi’raj menjelma majelis zikir panjang—tempat waktu diperlambat agar hati dapat kembali mendengar panggilan langit.

Isra Mi’raj bukan sekadar kisah naik ke langit. Dalam pandangan tasawuf, ia adalah perjalanan dari diri menuju Diri. Rasulullah SAW menempuh Isra dengan jasad dan ruh, sementara umatnya diajak menempuh mi’raj melalui penyucian hati: dari hiruk-pikuk dunia menuju keheningan makna, dari “aku” menuju “Engkau”.
Tausiyah Kiyai Roma Muda dari Bogor mengajak jamaah menyelami rahasia itu. Bahwa shalat—oleh-oleh dari Sidratul Muntaha—adalah tangga ruhani. Ia tidak meninggikan tubuh, melainkan mengangkat kesadaran. Setiap takbir adalah pelepasan. Setiap sujud adalah fana’—lenyapnya ego di hadapan Yang Maha Ada.
Lantunan Trio Qori mengalir laksana sungai zikir yang membersihkan debu-debu batin. Disusul Grup Qasidah Al-Muhajirin, syair-syair cinta kepada Rasulullah SAW bergema menyerupai sama’ para darwis: bukan untuk menghibur telinga, melainkan menggugah kerinduan ruh yang lama terasing dari asalnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Al-Muhajirin, Deni Ahmad Patoni, menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah peristiwa cinta antara hamba dan Tuhannya. “Ini momentum meneguhkan iman, merawat akhlak, dan menguatkan persaudaraan. Dari pesantren, kami ingin menghadirkan Islam yang menenangkan dan menyatukan,” ujarnya.
Pesan itu menemukan bentuknya saat para santri tampil. Muhamad Zikri menghadirkan nari yang tak mencari sorot mata, melainkan ridha. Geraknya menjadi tafsir sunyi atas doa yang dilafalkan—kesaksian bahwa tubuh pun bisa berzikir ketika hati telah tunduk. Sementara santriwati Speeya membawakan doa dan nari dengan kelembutan, seolah mengajarkan hikmah para sufi: jalan menuju Tuhan tidak selalu keras dan lantang; kadang ia hadir melalui kesenyapan dan adab.

Di pesantren yang bersahaja ini, Isra Mi’raj dipahami bukan sebagai peristiwa jauh di langit ketujuh, melainkan sebagai kemungkinan yang dekat—selama hati bersedia dibersihkan. Sebab, kata para arif, Tuhan tidak jauh. Kitalah yang sering terlalu penuh oleh diri sendiri.(Hyt)