zmedia

Bukan Sekadar Angkut: Cara Coblong Menjawab Sampah Kota

Bandung, bertanya.id - Coblong dikenal sebagai salah satu kecamatan dengan wajah paling beragam di Kota Bandung. Wilayah ini membentang dari kawasan pendidikan, permukiman padat, hingga tujuan wisata populer. Secara administratif, Coblong menaungi enam kelurahan—Dago, Sekeloa, Sadang Serang, Lebak Gede, Lebak Siliwangi, dan Cipaganti—dengan total 75 RW dan 462 RT. Bandung, Selasa, 13 Januari 2026.

Di balik potensi besarnya, Coblong juga memikul persoalan klasik kota besar: sampah. Dengan jumlah penduduk mendekati 203 ribu jiwa, timbulan sampah di wilayah ini tergolong tinggi. Setiap hari, sedikitnya 19 rit truk sampah keluar masuk wilayah Coblong untuk mengangkut sampah warga.
Camat Coblong Krinda Hamidipradja, SH, M.Si mengatakan, kondisi tersebut menuntut perubahan pendekatan. Menurut dia, pola lama buang dan angkut tidak lagi memadai untuk menjawab persoalan sampah di kawasan permukiman padat.

“Penanganan sampah harus berangkat dari perubahan perilaku warga. Kalau masih mengandalkan angkut saja, masalahnya tidak akan selesai,” ujar Krinda.

Krinda menyampaikan pernyataan itu menanggapi himbauan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, terkait penguatan program Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan). Ia menilai keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada konsistensi pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.

“Kalau sampah sudah dipilah dari rumah, beban TPS dan pengangkutan akan berkurang,” katanya.

Untuk itu, Kecamatan Coblong mendorong RT dan RW memperkuat sosialisasi Kang Pisman kepada warga. Selain pemilahan, pengolahan sampah juga diarahkan agar lebih produktif, antara lain melalui bank sampah, pengomposan, dan program Buruan Sae, yang memanfaatkan sampah organik menjadi sesuatu yang berguna bagi warga.

Menurut Krinda, aparatur kewilayahan juga diminta menjadi teladan. “Perubahan harus dimulai dari aparat, baru kemudian diikuti warga,” ujarnya.

Dengan potensi wisata dan aktivitas warga yang terus tumbuh, Coblong dihadapkan pada pilihan penting: membiarkan sampah menjadi beban, atau mengolahnya menjadi sumber manfaat. Melalui Kang Pisman, kecamatan ini berharap sampah tidak lagi berakhir di truk semata, melainkan kembali ke warga dalam bentuk nilai dan keberlanjutan.(Hyt)


Red.