Bandung, bertanya.id - Program pemilahan sampah yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus menunjukkan geliat positif hingga ke tingkat lingkungan warga. Di RW 12 Babakan Sari, Kecamatan Kiaracondong, Kota Bandung, gerakan ini menemukan sosok penggerak di lapangan: Pak Ujang, petugas pemilah sampah yang konsisten mengedukasi sekaligus memberi contoh nyata kepada masyarakat.
Setiap hari, Pak Ujang berkeliling mengumpulkan sekaligus memilah sampah dari rumah-rumah warga. Dengan peralatan sederhana, ia memisahkan sampah organik seperti sisa makanan dan daun, dari sampah anorganik seperti plastik, kertas, dan logam. Tak jarang, ia juga menemukan sampah berbahaya yang harus diperlakukan secara khusus.
Menurutnya, kunci keberhasilan program ini ada pada kebiasaan warga dalam memilah sampah sejak dari sumbernya. “Kalau dari rumah sudah dipisah, prosesnya jadi lebih cepat dan hasilnya juga lebih maksimal. Sampah yang bisa didaur ulang tidak tercampur, jadi masih punya nilai,” ungkap Pak Ujang.
Peran Pak Ujang tidak hanya sebatas memilah sampah. Ia juga menjadi edukator lingkungan bagi warga RW 12 Babakan Sari. Dalam berbagai kesempatan, baik saat kegiatan warga maupun secara informal, ia terus mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan melalui pemilahan sampah.
Perlahan tapi pasti, perubahan mulai terlihat. Warga kini mulai menyediakan tempat sampah terpisah di rumah masing-masing. Kesadaran untuk tidak mencampur sampah juga meningkat. Sampah organik mulai dimanfaatkan menjadi kompos, sementara sampah anorganik dikumpulkan untuk disalurkan ke bank sampah.
Ketua RW 12 Babakan Sari menyebutkan, kehadiran program DLH ini sangat membantu lingkungan mereka. Selain membuat kawasan lebih bersih, program ini juga membuka peluang ekonomi bagi warga. “Sekarang sampah bukan lagi sekadar dibuang, tapi bisa ditabung dan menghasilkan,” ujarnya.
Program pemilahan sampah yang dijalankan DLH memang tidak hanya berorientasi pada kebersihan semata. Lebih dari itu, program ini menjadi bagian dari upaya besar untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus mendorong konsep ekonomi sirkular di masyarakat.
Di Kecamatan Kiaracondong, RW 12 Babakan Sari menjadi salah satu contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dapat berjalan efektif. Peran aktif petugas lapangan seperti Pak Ujang menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program ini.
Meski demikian, tantangan tetap ada. Tidak semua warga langsung terbiasa memilah sampah. Dibutuhkan kesabaran, konsistensi, dan pendekatan yang humanis untuk membangun kesadaran tersebut. Namun dengan upaya yang terus dilakukan, optimisme tetap terjaga.
Bagi Pak Ujang, pekerjaannya bukan sekadar rutinitas, melainkan bagian dari kontribusi nyata untuk lingkungan. Ia berharap, ke depan semakin banyak warga yang sadar bahwa perubahan besar bisa dimulai dari hal kecil, seperti memilah sampah dari rumah.
Dengan semangat gotong royong dan kepedulian bersama, program pemilahan sampah DLH di RW 12 Babakan Sari diharapkan terus berkembang. Dari lingkungan kecil ini, langkah menuju kota yang lebih bersih dan berkelanjutan pun perlahan diwujudkan.(Hyt)
Red.