Bandung, bertanya.id - Sore di Kiaracondong bergerak lebih pelan dari biasanya. Di halaman Kecamatan Kiaracondong, deretan kursi sederhana mulai terisi satu per satu. Di sudut lapangan, petugas tampak merapikan barisan, sementara sejumlah warga dari berbagai kelurahan berdatangan dengan seragam komunitas masing-masing. Bandung, 20 Maret 2026
Di tengah suasana itu, apel bertajuk “Warga Jaga Warga, Warga Jaga Kota” kembali digelar sebagai bagian dari kesiapsiagaan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Kegiatan ini bukan hal baru, tetapi selalu datang dengan konteks yang sama: meningkatnya mobilitas warga, potensi kepadatan arus mudik lokal, hingga kekhawatiran klasik soal keamanan lingkungan di masa libur panjang.
Camat Kiaracondong, Mochamad Arief Budiman,S.STP., berdiri di depan barisan peserta apel. Dengan nada yang tenang namun tegas, ia mengingatkan bahwa keamanan wilayah tidak bisa hanya diserahkan kepada aparat. “Kekuatan kita ada pada kebersamaan. Warga yang saling menjaga jauh lebih efektif daripada sekadar pengawasan formal,” ujarnya.
Di sisi lain lapangan, jajaran tampak berbaur dengan unsur masyarakat. Tidak ada jarak yang terlalu tegas antara petugas dan warga pagi itu. Yang ada justru percakapan ringan, koordinasi lapangan, dan pembagian peran yang disusun tanpa seremoni berlebihan.
Apel ini dihadiri pula oleh berbagai organisasi kemasyarakatan (ormas), tokoh lingkungan, serta perwakilan RW dan RT. Mereka datang membawa perspektif yang sama: menjelang Idul Fitri, gang-gang sempit di Kiaracondong akan lebih hidup dari biasanya—dan di situlah potensi kerawanan ikut meningkat.
Dalam beberapa tahun terakhir, pola “Warga Jaga Warga” menjadi pendekatan yang terus dihidupkan di tingkat kewilayahan Kota Bandung. Bukan sekadar slogan, tetapi upaya membangun kembali sistem sosial berbasis kedekatan antarwarga. Pos ronda yang aktif, komunikasi cepat antar ketua lingkungan, hingga koordinasi dengan aparat menjadi bagian dari ekosistem kecil yang diharapkan mampu meredam gangguan keamanan sejak dini.
Sejumlah warga yang hadir mengaku kegiatan seperti ini memberi rasa tenang tersendiri. “Kalau semua ikut terlibat, kita juga lebih percaya diri meninggalkan rumah saat mudik,” kata salah satu peserta apel dari unsur RW, yang enggan disebut namanya.
Di sela kegiatan, tampak pula diskusi kecil antara aparat dan tokoh masyarakat mengenai titik-titik rawan yang biasanya mengalami peningkatan aktivitas menjelang hari raya. Mulai dari area perbatasan kelurahan, jalur akses pasar, hingga kawasan permukiman padat yang kerap mengalami lonjakan kunjungan tamu.
Mochamad Arief Budiman kembali menegaskan bahwa pendekatan yang diambil bukan sekadar reaktif, melainkan preventif. Ia meminta agar setiap unsur di tingkat bawah memperkuat komunikasi, terutama dalam mengantisipasi situasi yang berubah cepat di lapangan.
Menjelang akhir kegiatan, apel ditutup dengan penegasan kembali komitmen bersama. Tidak ada yel-yel yang berlebihan, tidak pula simbolisme yang mewah. Hanya barisan yang perlahan dibubarkan, disertai percakapan yang berlanjut di luar lapangan.
Kiaracondong kembali ke ritme hariannya. Namun di balik kesederhanaan itu, ada lapisan kesiapsiagaan yang sedang dirajut: antara warga, aparat, dan organisasi masyarakat, dalam upaya menjaga kota tetap tenang ketika sebagian warganya mulai bersiap pulang ke kampung halaman.(Hyt)