Bandung, bertanya.id - Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, suasana Kota Bandung pelan-pelan berubah. Jalanan mulai lengang di beberapa sudut, sementara pusat-pusat keramaian justru dipadati warga yang menuntaskan persiapan akhir. Di tengah ritme itu, ucapan-ucapan sederhana kembali menemukan tempatnya—mengalir dari ruang pribadi ke ruang publik.
Ketua KB FKPPI 10.09 Kota Bandung, Adde Mararif Surachmadi, memilih menyampaikan pesan yang tak berlebihan, namun mengena pada inti perayaan.
“Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin,” ujarnya di Bandung, Jumat 20 Maret 2026.
Kalimat itu barangkali terdengar akrab, bahkan diulang dari tahun ke tahun. Namun, bagi Adde, maknanya tak pernah benar-benar selesai digali. Ia melihat Idulfitri sebagai momen untuk merapikan kembali relasi yang mungkin sempat renggang—baik dengan keluarga, sahabat, maupun masyarakat luas.
“Di Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriyah, kami memohon maaf atas segala kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, sekecil apa pun hingga sebesar apa pun,” katanya.
Tak ada retorika panjang. Hanya penegasan bahwa manusia, dalam segala keterbatasannya, tak luput dari salah. Dan Idulfitri memberi ruang untuk mengakuinya.
Di organisasi seperti KB FKPPI, yang bertumpu pada semangat kebersamaan dan loyalitas, pesan itu terasa relevan. Permohonan maaf bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari upaya menjaga harmoni di tengah perbedaan dan dinamika internal.
“Semoga kita semua kembali fitri dan senantiasa dalam keberkahan,” ujar Adde menutup pesannya.
Di Bandung, ucapan seperti ini bukan hanya milik tokoh atau pejabat. Ia hidup dalam percakapan sehari-hari—di gang sempit, di ruang keluarga, hingga di media sosial. Sederhana, tapi mengikat.
Di antara gema takbir dan arus mudik yang terus bergerak, pesan itu seperti pengingat: bahwa yang dirayakan bukan hanya kemenangan setelah sebulan berpuasa, melainkan keberanian untuk kembali menjadi manusia yang lebih jujur—pada diri sendiri dan pada sesama.(Hyt)
Red.