zmedia

FKPPI Turun Tangan, Longsor Pasirlangu Masih Mengintai

KBB, bertanya.id — Bantuan kemanusiaan kembali datang ke Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, setelah tanah longsor menimbun permukiman warga di lereng Gunung Burangrang. Sabtu, 7 Februari 2026, Pengurus Cabang (PC) 10.09 Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI–Polri (FKPPI) Kota Bandung bersama PD X FKPPI Jawa Barat menyalurkan bantuan logistik bagi warga terdampak.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari respons solidaritas masyarakat sipil di tengah kondisi darurat. Ketua PC 10.09 FKPPI Kota Bandung, Adde Mararif Surachmadi, mengatakan kehadiran mereka bertujuan membantu kebutuhan dasar warga.
“Kami berupaya hadir untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak longsor,” kata Adde di Bandung, Rabu, 11 Februari 2026.
Longsor yang terjadi beberapa hari sebelumnya dipicu hujan deras yang mengguyur wilayah Bandung Barat secara berturut-turut. Material tanah, batu, dan pepohonan meluncur dari lereng dan menimbun sekitar 30 rumah warga. Data lapangan mencatat 37 kepala keluarga atau 114 warga terdampak, sebagian harus mengungsi sementara waktu.

Peristiwa ini menambah daftar kejadian longsor yang berulang di kawasan tersebut setiap musim hujan. Catatan meteorologi telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem di wilayah Jawa Barat sebelum kejadian, menyusul tingginya intensitas hujan dalam sepekan. Kondisi geografis wilayah yang didominasi lereng curam serta karakter tanah vulkanik memperbesar kerentanan terhadap pergerakan tanah ketika curah hujan meningkat.

Namun faktor alam bukan satu-satunya penjelas. Sejumlah kajian kebencanaan menunjukkan bahwa tekanan pemanfaatan lahan di wilayah perbukitan turut memperparah risiko. Perubahan tutupan vegetasi, aktivitas pembangunan, hingga pertumbuhan permukiman di zona rawan sering kali tidak diimbangi penguatan mitigasi tata ruang. Dalam kondisi seperti ini, hujan ekstrem menjadi pemicu yang mempercepat terjadinya bencana.

Penanganan bencana di lapangan umumnya bergerak cepat pada fase tanggap darurat — evakuasi, distribusi bantuan, hingga dukungan logistik. Akan tetapi, fase pemulihan dan pencegahan jangka panjang kerap berjalan lebih lambat. Upaya rehabilitasi vegetasi, penguatan sistem peringatan dini, serta penataan ulang kawasan rawan memerlukan koordinasi lintas sektor dan komitmen anggaran yang tidak kecil.
Adde menyatakan keluarga besar FKPPI turut menyampaikan keprihatinan atas kejadian tersebut dan berharap masyarakat segera pulih.
“Kami berharap kondisi warga terdampak bisa segera membaik dan tidak ada korban tambahan,” ujarnya.

Di tengah aktivitas distribusi bantuan, pertanyaan mengenai kesiapsiagaan jangka panjang kembali muncul. Wilayah Bandung Barat bukan pertama kali menghadapi longsor, dan besar kemungkinan bukan yang terakhir. Selama pola mitigasi masih bertumpu pada respons setelah kejadian, risiko berulang tetap membayangi masyarakat yang tinggal di kawasan lereng.

Bencana di Pasirlangu memperlihatkan kontras yang kerap terjadi: solidaritas sosial bergerak cepat ketika musibah datang, sementara perbaikan struktural untuk menekan risiko berjalan dalam tempo yang lebih lambat. Pada titik itulah, penanganan bencana tidak lagi semata soal bantuan, melainkan soal bagaimana memastikan peristiwa serupa tidak terus berulang di musim hujan berikutnya.(*)

Red.