Bandung, bertanya.id - Kenaikan suhu rata-rata global yang telah mencapai sekitar 1,1–1,3 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri kini bukan lagi sekadar angka statistik. Dampaknya semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di Indonesia yang berada di wilayah tropis dan rentan terhadap perubahan iklim.
Sejumlah tahun terakhir tercatat sebagai periode terpanas dalam sejarah modern. Gelombang panas, hujan ekstrem, hingga kekeringan berkepanjangan terjadi di berbagai belahan dunia. Indonesia pun menghadapi pola musim yang makin sulit diprediksi.
Peneliti klimatologi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa kenaikan suhu global berdampak langsung pada perubahan pola cuaca di Tanah Air.
“Indonesia sangat sensitif terhadap perubahan suhu permukaan laut dan atmosfer. Kenaikan suhu global memperkuat potensi cuaca ekstrem, baik hujan lebat maupun kekeringan,” ujar salah satu peneliti BMKG dalam keterangan ilmiahnya.
Menurut para ahli, kenaikan satu derajat Celsius secara global bukanlah angka kecil. Perubahan tersebut memengaruhi sistem iklim bumi secara keseluruhan, mulai dari mencairnya es di kutub hingga kenaikan muka air laut yang mengancam wilayah pesisir.
Di Indonesia, dampaknya terlihat dari meningkatnya kejadian banjir bandang, longsor, serta periode kemarau yang lebih panjang di beberapa daerah. Sektor pertanian dan perikanan menjadi yang paling terdampak karena sangat bergantung pada kestabilan musim.
Para ilmuwan mengingatkan bahwa mitigasi dan adaptasi harus berjalan beriringan. Pengurangan emisi karbon, transisi energi bersih, serta penguatan sistem peringatan dini menjadi langkah krusial untuk menahan laju krisis iklim.
Bumi mungkin belum “beruban” sepenuhnya, namun tanda-tanda perubahan sudah jelas. Tantangannya kini adalah memastikan kebijakan dan kesadaran kolektif bergerak lebih cepat dari laju pemanasannya.(*)
Red.